Senin, 24 Mei 2010

by: R Mulyohutomo; RMT Soemantri Hendrodipoetro; HR Widodo AS

KI CUCUK RESOBOYO 
LELUHUR DARI RADEN NGANTEN YUDOPRASETYO
Dalam Riwayat.




I. Membangun Keraton Mataram yang baru di wilayah dukuh Wonokarto.

Kerajaan Mataram saat itu dibawah kekuasaan Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Amangkurat ke II, dikenal juga dengan gelar Sinuhun Amangkurat Amral; Paduka mempunyai hasrat membangun keraton baru serta memidahkan ibukota kerajaan ke wilayah desa Wonokarto, yang diperkirakan waktu itu setelah selesainya kejadian perang pemberontakan Trunojaya, karena kondisi Keraton Mataram mengalami kerusakan berat dalam sekian waktu lamanya.
Maka diperintahkan kepada sang patih Raden Harya Nrangkusumo untuk memulai pekerjaan dengan diawali membuka hutan Wonokarto, dan kemudian mendirikan bangunan Keraton.
Semasa itu keadaan ibu kota kerajaan Mataram dan lingkungannya masih belum ramai dibanding sebelum perang meletus, walaupun pemimpin pemberontak Raden Trunodjoyo dan semua pengikutnya sudah dapat dibinasakan seluruhnya.
Demikian juga keadaan wilayah desa Wonokarto masih kelihatan sepi, karena para rakyat Mataram yang bertempat tinggal disitu banyak yang belum pulang dari pengungsian.

II. Keikut sertaan Ki Resoboyo sebagai darma baktinya dalam pembangunan Keraton.
Para abdidalem dan para kawula yang diberi kewajiban membuka hutan dan mendirikan bangunan Keraton baru, terlihat kepayahan dan lesu dalam pekerjaanya, hal tersebut disebabkan cadangan konsumsi yang dibawa dari Mataram sudah menipis, dan juga tidak mendapatkan bantuan dari rpenduduk wilayah dusun Wonokarto.
Saat itu, diketahui bahwa di dusun Bero-wetan, termasuk wilayah dusun Palar, Kemantren Delanggu, Kabupaten Klaten, seseorang penduduk bernama Ki Resoboyo dan keluarganya. Mereka bertempat tinggal sudah lama, sampai beranak cucu menjadi beberapa puluh keluarga, pekerjaan mereka menjadi pengrajin (kriya). Diantarnya pengrajin kemasan, pengrajin jejeran/ukiran, mengukir kayu, pengrajin gerabah tanah liat, tukang bubut kayu, pande, kundhi, pengrajin ukiran perak, emas, pendhok keris, mbatik dan lainnya.

Pada suatu hari Ki Resoboyo beserta anak-anaknya, pulang dari merantau, melewati hutan yang sedang dibabad untuk rencana pembangunan Keraton baru Mataram. Ki Resoboyo melihat para abdidalem dan para pekerjanya dalam keadaan keletihan banyak yang lemas , semua ini karena kekurangan makan. Oleh sebab itu perjalanan pulang Ki Resoboyo dipercepat, untuk segera sampai dirumah.
Ki Resoboyo beserta anak-anaknya setelah tiba dirumah segera kemudian mengumpulkan semua keluarga anak cucunya, semua disuruhnya membuat makanan apa saja yang mereka miliki. serta memetik buah-buahan yang ada di kebun masing-masing, dan memasak air untuk beberapa kenceng, untuk dibuat minuman dengan menggunakan daun blimbing yang sudah menguning dijadikan sebagai aroma minuman, karena pada jaman itu mereka belum mengenal daun teh. Yang maksud tujuan kesemuanya ini adalah untuk keperluan menjamu sebagai hidangan untuk para punggawa kerajaan, dan seluruh pekerjanya di hutan di Wonokarto.

Setelah hidangan semuanya sudah siap dibawa, Ki Resoboyo membawa beberapa anak-cucunya, untuk mengangkat puluhan jodhang (tandu) isi makanan dan minuman, menuju ke Wonokarto. Setelah sampai, kemudian menghadap penggawa pekerja, dengan maksud memberikan hidangan sebagai pengobat rasa lapar dan haus dalam membuka hutan dan membangun keraton.
Raden Harya Nrangkusumo saat menerima kedatangan Ki Resoboyo beserta anak dan cucunya dengan membawa hidangan beberapa puluh tandu/jodhang, seketika beliau menengadah ke langit, menghaturkan besarnya terima kasih kepada Tuhan Penguasa Alam Semesta, dalam suasana mereka kelaparan, kehausan dan keletihan, Tuhan Yang Maha Asih telah mengutus titah-Nya membawakan makanan dan minuman sebagai obat keletihan. Setelah itu Raden Harya Nrangkusumo menerima atas pemberian hidangan Ki Resoboyo dengan suka-cita penuh syukur, dan memerintahkan kepada Wedana Kalang (pemimpin pekerja), untuk membagikan makanan dan minuman yang dibawa oleh Ki Resoboyo, sampai merata agar semua kebagian. Keseluruhan punggawa negeri dan pekerja kemudian bersama menyantap dengan lahap, yang membuat pulihnya wajah, yang tadinya telah lesu, dan sekarang menjadi bersemangat kembali.
Setelah sajian hidangan selesai dihabiskan, Raden Harya Nrangkusumo bertanya kepada Ki Resoboyo, nama, tempat tinggal dan pangkatnya, karena dapat memberi hidangan sebanyak itu. Jawaban Ki Resoboyo dengan tunduk, menjelaskan bahwa dirinya adalah rakyat biasa yang tidak berpangkat, namun seluruh anak-cucunya semua sudah mempunyai rumah dan penghidupan dari lahan (sawah/tegal) yang dimiliki mereka sendiri-sendiri, serta mempunyai keahlian pekerjaan sebagai pengrajin / kriya yang bermacam-macam seperti halnya: pengrajin emas, pengrajin jejeran (ukiran) , ahli mengukir kayu , pengrajin gerabah, tukang bubut kayu, pande besi, kundhi, pembuat pendhok dan mengukir perak, emas, membatik dan lain-lainya. Jumlah keluarga Ki Resoboyo mencapai jumlah sampai 80 kepala keluarga.

III. Janji Raden Harya Nrangkusumo untuk membalas budi Ki Resoboyo.
Raden Harya Nrangkusumo setelah mendengar jawaban Ki Resoboyo dan menyampaikan rasa terima-kasihnya, kemudian beliau menyampaikan pesan : “apabila semuanya tidak ada yang keberatan dengan ketulusan hati diminta Ki Resoboyo beserta anak cucunya, agar suka kiranya melayani memberikan makanan dan minuman sampai dengan selesainya membuka hutan dan berdirinya Keraton baru Mataraml. Dan besok sekiranya sudah terlaksana berdirinya Keraton dan menjadi ibu kota serta menjadi ramai akan diberikan ganjaran / hadiah sebagai balas budi.
Dari waktu ke waktu, hasil pekerjaan membuka hutan dan membangun Keraton yang baru telah diselesaikan Raden Harya Nrangkusumo, dan juga sampai terbentuknya ibu kota Mataram. Kemudian dilaksankan kepindahan keraton ke dusun Wonokarto, dengan memberi nama: Negari Kartasura - Hadiningrat.
Namun sayangnya, sampai dengan berdirinya keraton dan ramai kota (rejaning jaman), janji yang diucapkan Raden Harya Nrangkusumo yaitu memberikan ganjaran/hadiah sebagai balas budi kepada Ki Resoboyo tidak kunjung tiba dan tanpa adad kabar beritanya. Dapat dikatakan bahwa seluruh dharma bakti Ki Resoboyo semasa babat hutan dan mendirikan keraton Mataram, dilupakan begitu saja, dan sekiranya seperti suatu hal ingatan yang terhapus sama sekali.
Seberapa besar kesedihan hati Ki Resoboyo. Dan apabila terdengar dalam kata hatinya yang mengatakan “ Apakah akan ada kejadian bahwa orang yang terhormat sebagai pejabat melakukan ingkar atas janji-janjinya ? “
Karena Ki Resoboyo adalah rakyat biasa, tidaklah dapat menuruti kata hatinya yaitu berkeinginan menghadap Raden Harya Ngrangkusuman untuk menagih janji. Oleh sebab itu Ki Resoboyo kemudian bertirakad, banyak-banyak melakukan doa kepada Gusti Maha Kuasa. Siang dan malam hari tidak pernah tidur didalam rumah. Kalau siang berteduh di warungan (pasar kecil) Sobayan, dan jika malam hari tirakad dengan nenepi merendamkan diri di sungai.
Ki Resoboyo dalam melakukan tirakad sampai melupakan makan dan tidur, sehingga menjadikan rusaknya badan/raga. Sehingga bila dicermati terlihat : tingkah lakunya seperti halnya orang gila, berjemur sinar matahari di warungan dalam keadaan badan tidak terawat. Lama-kelamaan warungan Sobayan dikenal dengan nama “Pedan”, yang sampai saat ini dikenal dengan pasar Pedan.

IV. Awal Ki Resoboyo menghadap Raja Mataram.

Dalam riwayat Sinuhun Prabu Amangkurat kaping II, yang kemudian mengubah gelar menjadi Sinuhun Amangkurat Amral, memerintahkan kepada punggawa kerajaan Raden Harya Nrangkusumo, memanggil ahli sebagai pengrajin emas diwilayah Mataram, untuk membersihkan/memperbaiki cincin pusaka ageman ndalem bernama: Kangjeng Kyai Balumbang dan Kangjeng Kyai Menjanganbang.
Seketika saat itu Raden Harya Nrangkusumo ingat kepada Ki Resoboyo dan keluarganya di dusun Bero-wetan yang pernah mempunyai dharma bakti memberikan hidangan dan segala perlengkapan makanan dan minuman selama pekerjaan mendirikan keraton Mataram - Kartosuro, yang memiliki keahlian sebagai pengrajin di bidang kemasan dimaksud.
Selanjutnya Raden Harya Nrangkusumo mengirim utusan punggawa kepatihan memanggil Ki Resoboyo untuk menghadap beserta keluarganya yang mempunyai keahlian makarya sebagi pengrajin (kriya) emas, mereka diminta datang di rumah Kepatihan Kartosuro. Dengan pesan kepada punggawa utusan tadi agar menyampaikan udangan juga sebagai perintah sinuhun yang bersifat penting dan segera.
Berangkatlah Ki Resoboyo ke ibu kota Kartosuro dengan mengajak putranya sebanyak 3(tiga) orang yang telah diyakini kepandaiannya sebagai pengrajin emas, anak tersebut adalah : Bagus Suro, Bagus Grawil, dan Bagus Sumito. Sesampainya di ndalem Kepatihan Kartosuro, Ki Resoboyo dan anak-anaknya diajak untuk menghadap Sinuhun di Karaton, yang kemduian mereka mendapat perintah sinuhun membersihkan/membangun kembali cicin pusaka (amulyakaken agemdalem kalpika pusaka) : Kangjeng Kyai Balumbang tuwin Kangjeng Kyai Menjanganbang. Dengan harapan dari pekerjaan mereka : cincin pusaka keduanya pulih menjadi baik kembali, sehingga dapat menjadikan suka cita sinuhun.

V. Anugerah Raja Mataram kepada Ki Resoboyo,
Ki Resoboyo beserta ketiga anaknya selain menerima upah pekerjaan mereka, juga diberikan hadiah beraneka ragam. Selain itu Ki Resoboyo diberikan kedudukan menjadi perangkat abdidalem golongan Kriya, diperintahkan menjabat lurah para-abdidalem golonqan Kriya.
Karena kondisi Ki Resoboyo Sudah lanjut usia, maka Ki Resoboyo menyampaikan hatur dengan penuh hormat, serta siap menerima kemarahan sinuhun apa bila hal ini tidak berkenan, bahwa diri Ki Resoboyo tidak dapat melaksanakan kehendak ingkang Sinuhun. Akan tetapi apabila diperbolehkan dan mendapat restu, anaknya yang sulung Bagus Suro yang ikut serta menghadap diusulkan menerima ganjaran menjabat dimaksud. Kemudian Ingkang Sinuhun menerima permohonan Ki Resoboyo dan meberikan ijin.

VI. Pengabdian keluarga Ki Resoboyo di kerajaan Mataram
S
emasa itu Bagus Suro masih jejaka, diberi kedudukan dan pangkat sebagai Mantri Wedana golongan Kriya serta kawisuda nama atau sesebutan : Ngabei Suro-Adikencono.
Karena Raden Harya Nrangkusumo merasa berhutang budi kepada Ki Resoboyo, maka untuk melaksanakan janjinya yang telah terucapkan semasa di hutan di Wonokarto, kepada Bagus Suro diberikan ganjaran untuk menikah dengan adik kandung dari Raden Harya Nrangsukuso sendiri. Sedangkan saudara-saudaranya Bagus Grawil dan Bagus Sumito juga diberi ganjaran. Bagus Grawil pangkat, nama/sesebutan : Ngabei Grawil. Bagus Sumito pangkat, nama/sesebutan : Ngabei Somohito I.

VII. Keluarga Ki Resoboyo
S
emua putera / mantunnya Ki Resoboyo (berjumlah 12) anak, semuanya di pekerjakan di kerajaan Mataram-Kartosuro, dan mendapat ganjaran/hadiah pangkat sesuai dengan keahlian masing-masing. Selain ketiga anak yang sudah menerima ganjaran tersebut diatas, adapun yang lain juga mendapat ganjaran adalah sebagai berikut :
 Putera ke 4 perempuan bernama Rara Jinar, menikah dengan Ngabei Djapan, mempunyai keahlian pekerjaan sebagai pande besi.
 Putera ke 5 perempuan bernama Rara Jiyem, menikah dengan Ngabei Potrodjoyo, mempunyai keahlian pekerjaan juga dibidang pande besi,
 Putera ke 6 perempuan bernama Rara Siyem, menikah dengan Ngabei Toproyo, mempunyai pekerjaan keahlian pertukangan dalam hal bubut kayu.
 Putera ke 7 laki-laki bernama Bagus Gapyuk, mempunyai keahlian pekerjaan dalam bidang membuat karah pedang, dengan ganjaran diperoleh nama/sesebutan : Ngabei Gapyuk.
 Putera ke 8 laki-laki bernama Bagus Jiro, mempunyai keahlian pekerjaan membuat jejeran (ukiran), dengan ganjaran diperoleh nama/sesebutan : Ngabei Joyorogo.
 Putera ke 9 laki-laki bernama Bagus Slembi mempunyai keahlian pekerjaan mengukir garan toleh (?) dan damel jejeran (ukiran) Tunggaksemi, dengan ganjaran diperoleh nama/sesebutan: Ngabei Salembar.
 Putera ke 10 laki-laki barnama Bagus Semprong, mempunyai keahlian pekerjaan dalam bidang membuat grabah (tukang kundhi), dengan ganjaran diperoleh nama/sesebutan: Ngabei Semprong.  Putera ke 11 laki-laki bernama Bagus Sempruk, mempunyai keahlian pekerjaan dalam bidang membuat angemalo kandelan (pendhok), dengan ganjaran diperoleh nama/sesebutan: Ngabei Noyolesono.
 Putera ke 12 adalah anak bungsu laki-laki bernama Bagus Warno, mempunyai keahlian pekerjaan dalam bidang Membatik/Mewarnai Kain (nyungging sinjang), dengan ganjaran diperoleh nama/sesebutan: Ngabei Adiwarno.

Selain itu, cucu Ki Resoboyo dari keturunan Ngabei Semprong (dari putera ke 10) sebanyak 2(dua) anak laki-laki, semuanya mempunyai keahlian pekerjaan dalam bidang membuat ukiran batu ( pemahat/pematung), mereka diangkat menjadi abdi dalem. Adapun yang tertua memperoleh ganjajaran nama/sesebutan: Ki Selokreto, sedangkan anak yang bungsu memperoleh ganjajaran nama/sesebutan: Ki Selokreti.
Anak Ki Resoboyo mulai urutan ke 2 sampai dengan ke 12 dan pula kedua cucunya, merka menjadi anak buah Ngabei Suro-adikencono (putra ke 1). Karena keadaan tersebut mereka semuanya kemudian pindah rumah di Kartosuro.
Sedangkan Ki Resoboyo tidak ikut serta pindah karena sudah lanjut usia, dan tetap bertempat tinggal di desa Bero-wetan sampai dengan wafatnya.

VIII. Keikut sertaan Trah Ki Resoboyo pada saat keraton Kartosuro pindah ke Surakarta.
Dalam alur riwayat, dari bulan, berganti taun, dan sampai dengan hitungan windu. Pada suatu malam hari kerajaan Kartosuro kedatangan berandhal Cina, pelarian dari Jayakarta. Para brandhal Cina tersebut dipimpin oleh BRM. Garendi, dan menjarah Karaton Kartosuro. Prajurit-prajurit Kerajaan Kartosuro terdesak dan dikalahakan, namun demikian Sinuhun Paku Buwono ke II, beserta isteri, putra dan para keluarga kerajaan semetara dapat menyelamatkan diri mengungsi keluar dari Keraton Kartosuro. Keadaan Keraton porak-peranda / rusak , banyak harta kekayaan kerajaan dan pusaka yang dijarah oleh brandhal Cina.
Siapakah yang disebut BRM Garendi tersebut ? dia adalah putra dari Gusiti Pangeran Harya Teposono, adalah trah / keturunan sebagai wayah dalem Inqkang Sinuhun Amangkurat kaping III (?), yang dikenal dengan nama Sinuhun Amangkurat Mas atau bernama Amangkurat Kenced.

Dengan ijin dan restu ingkang Sinuhun Paku Buwono ke II, keinginan untuk pindah ibu kota ke dusun Sala, telah dapat dilaksankan. Ibu kota baru tersebut diberi nama Surakarta Hadininqrat.
Semasa kepindahan ibu kota kerajaan Mataram Kartosuro ke Surakarta, Ngabei Suroadikencono dan saudaranya yang sama sama sebagai golongan pengrajin (Kriya), semuanya juga ikut serta dalam boyongan (pindah) ke Surakarta. Saat kedatangan yang pertama kali di Surakarta yang dituju adalah dusun / kampung Gemblegan, kemudian mereka mendirikan rumah-rumah, sampai keselatan dan melebar sampai kebarat. Sehingga didekat dusun Gemblegan terdapat nama dusun-dusun baru antara lain: Japanan, Gapyukan, Slembaran, Jragan, Potrojayan; Semprongan dan lain sebagainya. Adapun nama dusun / kampung tersebut sampai saat ini masih lestari dan masih terucapkan oleh masyarakat Sala, namun sudah jarang yang mengetahui riwayatnya.
Menurut riwayat bahwa Ngabei Suroadikencono adalah termasuk seseorang yang panjang usia, yaitu apabila kita perkirakan / membandingan kurun waktu semenjak menjabat Sebagai Wadana abdidalem Golongan Kriya sampai dengani masa penobatan Ingkang Sinuhun Paku Buwono ke V, yang tidak lama kemudian Ngabei Suroadikencono meninggal dunia, dimakamakan di pesarean Bagi Pogoro.
Ngabei Suroadikencono meninggalkan putera seorang anak laki-laki dan masih muda belia. Menurut peraturan dijaman itu, apabila abdidalem meninggal dunia, jabatan ayahnya dapat dilanjutkan kepada anak keturunan yang pertama (sulung), walaupun putera tadi adalah seorang perempuan.
Oleh karena puteran Ngabei Suroadikencono masih belum cukup umur, yang dapat menggantikan jabatan ayahnya tersebut. Kemudian jabatan tersebut diwakilkan kepada Ngabei Grawil dan Ngabei Somohito I. (saudara sekandung dari satu ayah ).
Pada saat pemeritahan Ingkang Sinuhun Paku Buwono ke VII, putera laki-laki almarhum Ngabei Suroadikencono telah mencapai usia dewasa, kemudian dimintakan ijin untuk menggantikan jabatan almarhum ayahnya yang sementara dijabat paman-pamannya yaitu: Ngabei Grawil, yang kemudian mendapat restu dari Sinuhun. Putera Suroadikencona kemudian memperoleh ganjaran nama / sesebutan: Ngabei Wiroadikencono

IX. Trah keturunan Ki Resoboyo
Ngabei Wiroadikencono menikah dengan puteri dari Ki Wirodongso di kampung Kauman Sala, namun dari perkawinan ini belum sampai mempunyai putera, Mas Ajeng Wiroadikencono meninggal dunia, dan dimakamkan di dusun Gadhingan Gawok.
Kemudian Ngabei Wiroadikencono memperoleh isteri paringandalem yaitu abdidalem Lurah Pandulangan, nama Nyai Lurah Amongwardoyo, dari perkawinan ini mendapatkan putera sebanyak 14 (empat belas) anak.
Putera yang ke 6 Ngabei Wiroadikencono dari Nyai Lurah Amongwardoyo adalah perempuan, setelah dewasa menikah dengan Ngabei Citrosudiro I, abdidalem Panewu Kemasan.
Mas Ajeng Citrosudiro mempunyai putera sebanyak 10 (sepuluh) anak. Putera ke 3 Ngabei Citrosudiro I adalah laki-laki bernama Ngabei Kromosudiro, kemudian bergati nama : Ngabei Citrosemito. Kawisudha abdidalem Kliwon Kemasan, mendapat ganjaran nama / sesebutan : Raden Nganten Somohito ke II, menurunakan 7(tujuh) anak.
 Putera yang ke 7 bernama Raden Citroguroto, sebagai abdidalem berpangkat Bekel Kemasan, mempunyai putera sebanyak 4(empat) anak, adalah :

 Putera ke 1 perempuan bernama: Raden Nganten Suhimah Yudoprasetyo, dari isteri tertua
 Putera ke 2 laki-laki bernama: Raden Slamet Tjitromartono dari isteri muda
 Putera ke 3 laki-laki bernama: Raden Su_isman ( meninggal dunia dalam usia muda ) dari isteri muda
 Putera ke 4 laki-laki bernama: Raden Su-isdi Sastromartono dari isteri muda.

Adapun Raden Nganten Suhimah menikah dengan Raden Lurah Yudoprasetio, yang mempunyai putera sebanyak 5(lima) anak adalah sebagai berikut :


 Putera ke 1 perempuan bernama Rara Sutamtimah, lahir ing Sala tgl. 23-08-1912, kawisuda pangkat Panewu Polisi Wanita Kasunanan Surakarta, mendapat ganjaran nama/sesebutan Nyai Lurah Hamongwanodya. Menikah dengan Raden Sukohardjo Hamungrahardjo,

 Putera ke 2 perempuan bernama Rara Suhardinah, menikah dengan Raden Soemodiningrat
 Putera ke 3 perempuan bernama Rara Sukarsinah, menikah dengan Raden Mas Tumenggung Sumantri Hendrodipoetro.
 Putera ke 4 perempuan bernama Rara Sugandinah, menikah dengan Raden Padmo Sunarjo.
 
 Putera ke 6 laki laki bernama Raden Subardo, menikah dengan Raden Nganten Sudarti.
Riwayat Ki Resoboyo ditulis dalam bahasa jawa, yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, agar mempermudah pembaca memahami dan menyukai cerita riwayat leluhur.



Kisah ini semula dihimpun dan ditulis dalam bahasa jawa kromo inggil oleh Raden Mulyohutomo, dan kemudian dilanjutkan dan diteliti / ditata kembali demi kesempurnaan kalimat dalam riwayat tersebut oleh Raden Mas Tumenggung Soemantri Hendrodipoetro, diselesaikan pada hari Sabtu Pon, tanggal: 01 Desember 1990, di Surakarta.
Sebagai rangkuman keturunan Ki Resoboyo penulis telah membuat bagan pohon keluarga/ silsilah ( Genealogical Diagram The Royal Family of Ki Cucuk Resoboyo up to Raden Nganten Yudoprasetyo ) dalam rangkaian lembar Buku Silsilah Trah Sultan Trenggana – Demak Bintoro pancer leluhur dari Raden Sukohardjo Hamungrahardjo, Semoga tulisan ini bermanfaat bagi anak cucu kita.


Penulisan dilanjutkan oleh HR Widodo AS, di Surabaya pada hari Kamis 11 Maret 2010, dengan maksud untuk melengkapi pembuatan silsilah dari pancer laki-laki Raden Sukohardjo Hamungrahardjo, sebagai suami Rara Sutamtimah / Nyai Lurah Hamongwanodya.

NB-Review Jakarta, 24 May 2010
           -Review Surabaya, 24 Agustus 2010



Tidak ada komentar:

Posting Komentar